Belajar dari Do’a Mustajab Manusia-manusia Pilihan
Oleh: Rohmat Saputra
DO’A adalah senjata
orang-orang mukmin. Tidak ada senjata yang ampuh dalam melawan segala
kedzaliman dan kekhawatiran melainkan dengan do’a. Do’a dipanjatkan
tidak hanya pada saat jalan keluar benar-benar
buntu. Tapi juga dipanjatkan ketika sedang lapang dan senggang. Sebab
hasil dari do’a, Allah akan simpan kebaikan pemohon, dan menghindari
sesuatu yang buruk dari orang itu.
“Tidaklah seorang
muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan
memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri
padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan
do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3]
Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat
lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata,
“Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR.
Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid)
Dari uraian hadist
diatas, jadi jangan merasa khawatir bila do’a tidak dikabulkan. Pasti
akan ada hikmah yang terkandung kenapa Allah pending do’a hambanya
selama berisi kebaikan. Tapi ada diantara manusia
pilihan yang jika berdo’a, Allah kabulkan dengan segera. Siapa mereka?
Mari kita simak ulasan dibawah ini.
Umar bin Khattab
Sahabat yang
terkenal watak yang keras dan tegas adalah Umar bin Khattab. Namun saat
menjadi khalifah dalam masa Khulafaurrosyidin, masyarakat yang berada
dibawah pimpinannya merasa makmur. Dia tidak sekeras
dulu saat Rosulullah dan Abu bakar Asy-Syiddik masih hidup.
Banyak sekali
kelebihan-kelebihan yang dimiliki Umar bin Khattab. Diantaranya, Syetan
akan takut bila berpapasan dengan Umar. Bila syetan mendapati Umar pada
suatu jalan, maka syetan akan mencari jalan yang
lain karena besarnya rasa takut kepada Umar.
Nabi pernah
menyebutkan, bahwa bila seandainya ada Nabi setelahnya, maka Umarlah
orangnya. Rosulullah bersabda: “Seandainya setelahku ada nabi, niscaya
ia adalah ‘Umar bin Al-Khaththaab” [As-Sunan, no. 3686].
Sebab banyak
keputusan Umar yang sejalan dengan hukum Allah. Sehingga Umar layak bila
menjadi menjadi Nabi setelah Rosulullah. Tapi tidak ada nabi setelah
diutusnya Nabi Muhammad. Karena beliau adalah penutup
para nabi.
Dalam hidup Umar, pernah berdo’a dua kali tentang berandai-andai mati. Dan Allah kabulkan itu semuanya.
Do’a pertama, “Ya
Allah berikanlah aku anugerah mati syahid di jalan-Mu, dan jadikanlah
kematianku di negeri Rasul-Mu Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR.
Bukhari 1890)
Allah kabulkan do’a
Umar sebagai Syuhada meski tidak dalam medan perang. Padahal ada sahabat
yang maragukan Do’a beliau. Karena kondisi saat itu jauh dari
pertempuran dan masih dalam keadaan aman. Tapi Umar
mati Syahid karena dibunuh oleh salah seorang Majusi yang bernama Abu
Lu’lu’ah ketika shalat shubuh. Orang itu menikam badanUmar ditengah
mengimami para sahabat dimasjid kota Nabi, yaitu Madinah.
Umar mati syahid
dibunuh oleh seorang majusi yang punya dendam mendalam karena negerinya,
yaitu Persia, peradabannya runtuh ditangan Khalifah Umar. Dan Umar
meninggal pada tempat yang diharapkan dalam do’a,
dimana sebelumnya Nabi tinggal dinegeri itu.
Doa Umar yang kedua
yaitu beliau biasa melazimi do’a yang dipanjatkan oleh Rosulullah. Bunyi
do’a,“ Ya Allah aku meminta kepadamu perbuatan kebaikan, dan
meninggalkan perbuatan yang mungkar, mencintai orang-orang
miskin. Ya Allah, jikalau engkau ingin untuk menimpakan bencana kepada
umat manusia dengan fitnah yang besar, maka cabutlah nyawaku ya Allah
Tanpa aku mendapatkan bencana atau fitnah itu.” (diriwayatkan oleh imam
tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam Al-Bani).
Allah kabulkan do’a
Umar dengan tidak ada fitnah dimasa hidupnya. Tidaklah terbuka fitnah
kecuali ketika Umar bin Khattab telah meninggal. Maka khalifah
setelahnya diuji dengan fitnah sepeninggal Umar. Seperti
munculnya fitnah kelompok Khowarij dan kelompok Syiah, serta fitnah
besar yang dihembuskan oleh musuh Allah dalam perseteruan antara sahabat
Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah.
Saad bin Muadz
Beliau adalah salah
seorang sahabat Nabi yang masuk Islam dari perantara Mushab bin Umair
dan As’ad bin Zurarah. Sahabat Rosul ini merupakan kepala suku Aus,
yaitu salah satu suku besar yang ada di Madinah.
Tentang keutamaan Saad bin Muadz, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata,
“Dikalangan Anshor di Madinah, ada seorang yang bernama Saad bin Muadz
yang kedudukannya sama dengan Abu Bakar Asy-Syiddiq dikalangan
muhajirin. Semua cacian terhadapnya tidak akan berpengaruh
padanya, dan jihadnya kepada Allah, dan juga mati syahid di akhir
hidupnya, selalu mendahulukan ridho Allah diatas ridho
makhluk-makhluknya. Dan dialah seseorang selain nabi-nabi yang berhukum
yang tepat diatas tujuh lapis langit. Dan begitu juga Jibril turun
langsung memberitahukan kematiannya kepada Rosul. Dan Arsy Allah
berguncang karenanya.”
Pada saat perang
ahzab, Saad bin Muadz terkena serangan panah tepat di urat nadinya yang
dilemparkan oleh salah seorang musyrikin, yang bernama Ibnu Abi Ariqoh.
Dia salah satu pemanah ulung. Akibatnya darah
dari urat nadi Saad mengalir deras. Lantas dia lemas dari banyaknya
darah yang terus mengalir.
Kemudian dia
mengadahkan tangan, lalu berdo’a “Ya Allah, kalau memang masih ada
pertempuran dan persoalan yang belum selesai, antara nabi dan
orang-orang Bani Quraidhah, maka tolong tangguhkanlah dari matiku,
sampai aku membantu nabi menyelesaikan urusannya dengan pengkhianatan
bani Quraidhoh.”
Maka setelah itu
darah yang sebelumnya mengalir deras, tiba-tiba terhenti. Kemudian Saad
bin Muadz ikut rombongan pasukan muslimin mengepung Bani Quraidhah
karena melakukan pengkhianatan kepada kaum muslimin.
Setelah Bani Quraidhah dikalahkan, maka Saad kembali berdo’a, “Ya Allah
bila telah selesai urusan Nabimu dengan bani Quraidhoh, maka aku lebih
senang untuk kembali kepadamu, dan berada disisimu dari pada didunia.”
Belum lama lisannya
basah dari permintaannya itu, Allah langsung kabulkan do’a Saad dengan
kontan. Darah yang sebelumnya berhenti dan mengering, kembali mengucur
dengan derasnya. Hingga semakin lemas dan
akhirnya meninggal dunia.
Saat Rosul melihat jenazah Saad bin Muadz, Rosulullah berkata, “Kepulangan Saad mengguncangkan Arsy Allah”.
Padahal Saad belum
lama memeluk Islam. Baru 8 tahun. Lalu meninggal pada usia 38 tahun.
Tapi Allah muliakan dengan mengabulkan permintaan akheratnya karena
kesungguhan dalam membela agama Allah.
Ashim bin Tsabit
Ashim Bin Tsabit
adalah salah seorang sahabat Nabi yang memiliki permintaan dalam do’a
yang unik. Dia memohon kepada Allah ketika meninggalnya nanti dimedan
pertempuran, agar tubuhnya tidak dijamah oleh pasukan
musyrik. Do’anya berbunyi, “Ya Allah jangan biarkan orang musyrikin
untuk menjamah tubuhku”.
Allah kabulkan do’a
Ashim bin Tsabit. Sepanjang orang-orang musyrikin ingin mendekati
tubuhnya, Allah terus lindungi jasadnya melalui tentara makhluk-Nya.
Ashim termasuk sahabat yang diincar tubuhnya oleh
wanita musyrikin. Karena dia telah membunuh salah seorang anggota
keluarganya pada suatu peperangan. Kepalanya dihargai ratusan dinar bagi
siapa saja yang mendapatkannya.
Untuk apa tubuhnya
Ashim bagi wanita itu? Dia ingin meminum khomr dari kepala tengkorak
Ashim bin Tsabit, karena begitu dendamnya kepada sahabat Rosul tersebut.
Saat orang-orang
Quraisy mulai hendak mendekati jasad Ashim yang telah mereka temukan,
tiba-tiba datang segerombolan tentara lebah. Setiap mereka mendekati,
lebah itu menyerang dengan masif. Hingga mereka
bermusyawarah bagaimana caranya agar mereka bisa mendapati jasadnya
Ashim.
Kemudian mereka
berinisiatif mengambil jasad Ashim ketika malam hari. Mereka berfikir,
lebah itu akan kembali ke rumahnya saat malam tiba.
Dimalam hari,
orang-orang musyrik kembali mendatangi jasad sahabat rosul itu. Namun
saat mendekatinya, tiba-tiba hujan turun begitu deras. Hingga genangan
air membawa jasad Ashim bin Tsabit sampai ketempat
yang tidak ada satupun orang-orang musyrik yang tahu jasadnya. Allah
mengabulkan do’anya meski ruh telah meninggalkan jasad demi menjaga
kehormatannya.
Saad Bin Abi Waqqosh
Salah seorang
sahabat Rosul ini selalu dikabulkan do’anya. Tidaklah dia memanjatkan
sebuah doa, melainkan dengan segara Allah kabulkan permintaan tersebut.
Sampai beliau terkenal dikalangan para sahabat adalah
manusia yang makbul do’anya. Selain itu, sahabat yang terdaftar orang
ketiga dalam memeluk Islam ini berusaha berlepas diri dari fitnah
perseteruan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiayah. Dia tidak
mendukung satu orangpun dari dua sahabat tersebut. Beliau
lebih memilih diam.
Di masa Umar bin
Khattab dia menjadi pemimpin pasukan besar untuk menyerang Persia yang
dipimpin oleh Rustum. Dalam suatu kejadian dia dan bersama ribuan
pasukannya mampu berjalan diatas air. Padahal sungai
tigris saat itu masih sangat deras. Ini merupakan karomah yang Allah
berikan kepada hamba yang memperjuangkan agama-Nya. Sehingga pasukan
yang melihat itu membuat pasukan persia takut dan akhirnya bertekuk
lutut. Karena mereka seolah menghadapi pasukan yang
entah dari mana datangnya.
Suatu ketika putra
dari sahabat Saad, yang bernama Mus’ab bin Saad bin Abi Waqqosh
jalan-jalan bersama bapaknya. Kemudian mendapati salah seorang yang
menghujat dan mencela Ali bin Abi Thalib. Lantas Saad
bertanya kepada orang tersebut, “Kenapa kamu mencela dan mendzalimi
Sahabat Ali bin Abi Thalib? Apa yang salah darinya?”
Namun orang itu tetap saja mencela Ali bin Abi Thalib sambil duduk diatas kudanya.
Kemudian Saad
mengadahkan tangannya dan berdo’a, “Kalau memang orang ini memfitnah dan
apa yang dia sampaikan salah, berikanlah hukuman kepadanya atas
kedzaliman besar karena menghujat salah satu orang yang
kau cintai, Yaitu Ali bin Abi Thalib.”
Belum kering
lisannya Saad dalam memohon, kuda yang ditunggangi oleh laki-laki
penghujat itu memberontak dengan keras. Akibatnya lelaki itu terpental
jauh ketanah dan kepalanya membentur batu. Tidak lama
kemudian meninggal.
Pernah di lain waktu
Saad sendiri difitnah oleh salah seorang. Maka beliau berdoa, “Ya Allah
jika memang dia memfitnah atas kebohongan yang dia rangkai, maka
timpalah kepada dia 3 hal. Satu, panjangkan umurnya.
Kedua, miskinkan dia terus menerus. Ketiga, beri fitnah sampai mati.
Maka Allah kabulkan
doa Saad. Orang itu diberikan umur yang panjang, hidupnya terus-terusan
dalam kemiskinan. Dan hidupnya penuh dengan fitnah. Yaitu suka menyoleki
perempuan dipasar. Itu tidak bisa dihentikan
sama sekali olehnya. Dia berkata, “Ini adalah hasil do’a yang dulu
dipanjatkan oleh Saad bin Abi Waqqosh”.
Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Ahmad hidup
dipemerintahan Bani Abbasiyah. Dimasa umur 10 tahun dia telah hafal
Al-Qur’an secara sempurna, meski tanpa ada sosok ayah disisinya. Karena
ayahnya wafat saat usianya belia. Imam Ahmad terlahir
dalam keluarga yang kurang mampu. Namun atas kesungguhan sang ibu dalam
menanamkan motivasi menuntut ilmu sejak kecil, mengantarkan Ahmad bin
Hanbal menjadi salah satu Imam Mahdzab yang terkenal dan menjadi rujukan
hingga abad ini.
Suatu ketika Imam
Ahmad diuji keimanannya dengan fitnah Khalqul Qur’an (Al-Qur’an adalah
makhluk). Atas musibah itu, beliau dan ulama lainnya di panggil oleh
khalifah, lalu kemudian dieksekusi oleh para algojo
dengan cambukan berkali-kali.
Ada yang mengatakan bahwa jika cambukan itu diberikan kepada hewan, maka hewan itu akan mati.
Di tengah cambukan
bertubi-tubi yang mendarat pada punggung Imam Ahmad, maka tali celananya
mengendur. Jika dibiarkan akan tersingkap auratnya bila tidak
dikencangkan. Sedangkan saat itu kondisi tangannya
diborgol, sehingga ia tidak bisa mengencangkan tali celana tersebut.
Atas kejadian itu, Imam Ahmad berdo’a supaya auratnya tidak terbuka,
disebabkan cambukan yang bertubi-tubi diarahkan kepadanya.
Tidak lama dia
selesai berdo’a, maka tali celana tersebut mengencang kembali
sebagaimana sebelumnya. Allah mengabulkan do’a Imam Ahmad agar auratnya
tidak terlihat, yang menyebabkan kehormatannya tersingkap.
Demikianlah
sekelumit kisah do’a para salaf yang dikabulkan oleh Allah. Tentu masih
banyak sekali para pendahulu kita yang dengan mudah dikabulkan do’anya.
Terkabulnya do’a bukan karena Allah asal memilih
hambanya yang dikehendaki do’anya. Tapi karena hati yang bersih dan
tubuh yang terbebas dari zat haram. Serta membela agama Allah dari para
pencela dan penghinanya. Maka do’a yang dikabulkan merupakan salah satu
diantara indikasi bahwa Allah cinta kepada mereka.
Bila sang kekasih telah cinta, apapun yang diminta akan dikabulkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar